ISMI ANISA: Indonesia di Ujung Tanduk?

Minggu, 13 Oktober 2013

0

Indonesia di Ujung Tanduk?



Secara kuantitatif, pertumbuhan Indonesia menunjukkan peningkatan yang cukup baik. Masyarakat dibuat tenang oleh angka yang sebenarnya mereka tidak tahu perhitungan dari mana itu.
Pemerintah selalu mengatakan bahwa pertumbuhan Indonesia baik-baik saja, menyebutkan angka yang dapat meyakinkan masyarakat bahwa segala masalah yang ada dapat diselesaikan dengan baik. Hal ini menggambarkan bahwa ‘angka’ menjadi suatu target yang harus dicapai semua pihak. Semakin tinggi angkanya, semakin baik kondisinya. Benarkah demikian? Walaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 5,9% (2009-2013), koefisin gini Indonesia pun tak lantas menurun. Peningkatan angka dari 0,39 menjadi 0,41 membuktikan bahwa Indonesia hanya membaik di ‘kulit’nya saja. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Semua orang kini hanya memikirkan bagaimana mendapatkan profit sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri.

Contoh lainnya, kericuhan yang sempat terjadi perihal kenaikan harga BBM. Pemerintah mengatakan bahwa APBN Indonesia akan membengkak bila harga BBM tidak dinaikkan akibat dari subsidi yang akan membludak. Pernyataan tersebut secara tidak langsung membuktikan bahwa pemerintah tidak lagi memihak 100% pada kesejahteraan masyarakat. Masyarakat dibiarkan menikmati harga BBM yang sudah naik sedangkan penikmat rokok dibiarkan menikmati harga rokok yang tergolong paling murah dibandingkan dengan negara lain.
Masuknya perusahaan-perusahaan asing ke Indonesia dengan mudah dianggap baik oleh sejumlah pihak. Pasalnya, sumber daya alam Indonesia dikeruk habis tanpa adanya penggantian yang setimpal. Masyarakat Indonesia yang menderita. Inikah tujuan negara Indonesia merdeka?
Utang-utang Indonesia tidak menunjukkan angka yang melegakan. Meningkatnya utang negara sebanyak 724,22 T telah membuat APBN Indonesia makin kempes. Pos-pos penting lain harus dipangkas dananya untuk mebiayai utang negara yang telah tembus angka 2,000 Triliun. Merugikan masyarakat? Tentu! Masyarakat yang membayar pajak, masyarakat pula yang berkontribusi membayar utang luar negeri. Namun tidak semua masyarakat dapat menikmati hasil dari meningkatnya utang negara tersebut. Bagaimana Indonesia dapat melunasi utang-utangnya? Apakah Indonesia akan menggunakan sistem gali lobang tutup lobang?
Ini bergantung pada siapa yang akan memimpin Indonesia kelak. Hal ini tentu tidak dapat dibiarkan. Semakin besar kemungkinan Indonesia akan bangkrut dan menjadi kacau. Diharapkan, para ekonom masa depan dapat berpikir secara kritis dan bijak dalam membangun Indonesia merdeka dan sejahtera, membangun Indonesia atas dasar Pancasila.


Penalaran :
  •            Peningkatan angka dari 0,39 menjadi 0,41 membuktikan bahwa Indonesia hanya membaik di ‘kulit’nya saja. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.
  • Meningkatnya utang negara sebanyak 724,22 T telah membuat APBN Indonesia makin kempes.
  •           Pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai angka 5,9% (2009-2013)
  • Pemerintah mengatakan bahwa APBN Indonesia akan membengkak bila harga BBM tidak dinaikkan akibat dari subsidi yang akan membludak.
  •           Pos-pos penting lain harus dipangkas dananya untuk mebiayai utang negara yang telah tembus angka 2,000 Triliun.
Argumentasi:
  •           Masuknya perusahaan-perusahaan asing ke Indonesia dengan mudah dianggap baik oleh sejumlah pihak.
  • Diharapkan, para ekonom masa depan dapat berpikir secara kritis dan bijak dalam membangun Indonesia merdeka dan sejahtera, membangun Indonesia atas dasar Pancasila.
  •        Semua orang kini hanya memikirkan bagaimana mendapatkan profit sebanyak-banyaknya untuk dirinya sendiri.
  •  Masyarakat dibuat tenang oleh angka yang sebenarnya mereka tidak tahu perhitungan dari mana itu.
  •          Sumber daya alam Indonesia dikeruk habis tanpa adanya penggantian yang setimpal
  •             Masyarakat yang membayar pajak, masyarakat pula yang berkontribusi membayar utang luar negeri

ISMI ANISA
3EB05 / 23211733
BAHASA INDONESIA 2

0 komentar:

Posting Komentar